Sabtu, 26 Oktober 2013

Salam Untuk Orang Tua dan Guru




      Terkenang Orang Tua dan Guru yang pada waktu itu mereka mengajarkan kepada Kita sekumpulan Ilmu Pengetahuan. Orang Tua mengajarkan kita sejak usia dini berupa kemampuan untuk siap dan mampu menghadapi tantangan dunia masa depan yang menjadi ajang kehidupan nantinya. Dan Guru menanamkan rasa keingintahuan dan hallikhwal berupa rasa cinta belajar seumur hidup, kreatifitas, dan keberanian kemukakan pendapat serta berekspresi.

“Ya Allah Ya Hayyu Ya Qayyum Birahmatika Astaghitsu“, Doa inilah yang terlontar berulang-ulang dari Guru-Ku nan ku Cinta Kasih dan Sayang Karena Allah. “Ingat Allah Dimana Saja Kamu Berada Nak, Zikir Terus secara Rahasia dan Zahir, sebut terus Allah…Allah…Allah. Inginkan sesuatu pintalah hanya kepada Allah dan bersandarlah hanya kepada Allah” Pesan Orang Tua nan ku cinta, Kasih, dan Sayang Karena Allah.

Ya Allah bentangilah Cinta, Kasih dan Sayangmu selalu kepada Mereka orang tua dan Guru kami yang telah membimbing Kami Di sini. Ampunilah mereka Ya Allah, dan tempatkanlah Mereka ditempat yang tertinggi. Naungilah Mereka selalu Ya Allah dengan Kasih dan Sayangmu, lindungilah Mereka Ya Allah dari Azab dan kemurkaanmu.
Ya Allah Tolonglah Kami disini yang menyandarkan Hallikhwal yang kau anugerahkan kepada Kami berupa rasa Cinta, Kasih, dan Sayang Karena Allah. Dalam meniti titian jalan Hallikhwal, kami niatkan dengan niat semata-mata Karena Allah dengan harapan semoga kami selalu mendapatkan naungan Allah dalam menjalani kehidupan di dunia ini hingga akhir nanti.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Berkat Ilmu Membawa Manusia Ke Arah Kebahagian



Khatib jum’at, Sirajudin menyampaikan kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan yang terdapat pada suatu bangsa dan kewilayahan. Karena Ilmu akan mengangkat derajat seseorang atau suatu bangsa ke arah derajat kemulian dan kebahagian hidup di dunia dan akhirat. Sebagaimana Nabi Muhammad.SAW sampaikan kepada umat-nya, Ilmu sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa. Terbukti dari ajaran Islam yang telah mengangkat derajat ilmu, dengan ilmu pengetahuan akan membawa manusia itu ke arah kebahagian hidup baik didunia dan di akhirat kelak. Berkat ilmu pula menjadi kekuatan dalam menghadapi ujian dari Allah dalam kehidupan, dan berkat ilmu pula menjadi benteng seseorang hingga dapat mencegah seseorang itu dari melakukan perbuatan yang dilarang agama. Ilmu dapat membentuk pribadi seseorang menjadi baik dan menjadikan orang itu bertaqwa dan mencintai Allah.SWT dan Rasul-Nya.

" Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan (sekalian makhluk). Ia telah menciptakan manusia daripada segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu amat pemurah. Yang mengajarkan (menulis) dengan pena. Yang mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tiada diketahuinya". “Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari pada hambanya adalah orang-orang yang berilmu”. (Al-Fathur ayat 28). “Katakanlah Adakah sama orang-orang berIlmu dengan orang yang tidak berilmu ? Sesungguhnya mereka yang mendapat peringatan dan petunjuk hanyalah dikalangan hambanya yang berilmu dan bijaksana” (Al-Zumar:ayat 9). Ilmu dapat mengangkat derajat seseorang kepada derajat yang tinggi disisi Allah dan masyarakat sebagaimana firman Allah, “Allah mengangkat beberapa derajat orang-orang yang beriman dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan” (Al-Mujadalah:11). “Karena itulah sebagaimana sabda Rasullulah SAW tuntutlah Ilmu dari dalam buaian hingga ke liang lahat, dan menuntut Ilmu menjadi kewajiban atas setiap umat Islam,” katanya dalam khutbahnya di Masjid waktu sholat jumat kemarin.

Tiga modal dalam kehidupan ini, Pertama Modal Ilmu, Kedua Modal Harta Materi Rezeki, Ketiga Modal Tenaga. “Dengan modal Ilmu kita cari Ridho Illahi. Dengan Harta Materi maupun rezeki kita bersyukur pada Illahi dan menggunakannya di jalan Allah Yaa Wakil. Dengan Tenaga kita merasa tiada daya dan upaya melainkan semua kekuatan atas izin dan pertolongan Allah serta menggunakannya di jalan Allah”. 

Illahi engkaulah tujuan Kami, Maghfirah dan Ridho Allah x 1.111.111.111.131  maksud niat Kami, berilah Kami petunjuk dan hidayahmu dalam menjalani kehidupan ini, Ampunilah Kami dan tetapkan serta kuatkanlah Kami, kencangkanlah tekad Kami untuk menuju padamu Illahi. Illahi segala puji bagimu atas anugerah yang kau beri kepada Kami berupa titian Hall-Ikhwal yang kau tanam dalam diri kami, menanjak dengan niat menyandarkan hallikwal berupa cinta, kasih dan sayang karena Allah, seraya berharap menjadikan diri ini menjadi tempat persinggahan Illahi dengan terus selalu zikir dan ingat Allah dalam diri ini. Illahi Kukuhkanlah setiap maqamat yang kami lintasi, terutama dalam maqamat tobat kami ini.

Rabu, 18 September 2013

Robbi Anzilni Munzalan Mubarokan, WaAnta Khoirul Munzilin




Ya Tuhanku, tempatkanlah kami pada tempat yang diberkati, dan Engkau
adalah sebaik-baik yang memberi tempat.

Ketika menggigil satu diantara jemari ini seiring dengan galau-Nya suasana hati yang penuh kekuatiran dan takut pada Illahi. Kami menuju padamu Illahi dengan harapan limpahan berkat dan maghfirah, Ya Allah tolonglah kami, dan berilah kami petunjuk dan hidayahmu kepada kami untuk selalu ingat kepadamu Illahi Rabbi disisa umur kami. 

“Mengenang seperempat malam di Inabah dengan mendekatkan diri kepada Illahi. Hall Ikhwal kami penuh kerinduan dan rasa menyesal lantaran khilaf atas kejahilan diri. Ampunilah kami Illahi yang selalu berharap kepada Allah dan menjadikan diri tempat persinggahan Allah diatas kunci maqamat berupa tobat dengan niat karena Allah dengan harapan Allah membentangkan maghfirahnya kepada diri kami, dan tolonglah kami Illahi yang menyandarkan kunci hallikhwal berupa cinta yang kami sandarkan dengan niat semata-mata karena Allah.”

Rabu, 04 September 2013

Ingat Kepada Allah




Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang

      Ya Allah engkaulah maksud dan tujuan kami orang-orang yang menyandarkan HallIkhwal berupa cinta kasih dan sayang karena Allah, dan berlindung kepada Allah dari azab dan kemurkaan Allah terhadap diri kami. Ya Allah bentangilah kami dengan curahan cinta kasih dan sayangmu kepada diri kami, serta bentangilah diri kami dengan maghfirahmu (ampunanmu) Illahi Rabbi.

      Ya Allah tiada daya dan upaya kami melainkan semuanya atas pertolongan Allah kepada diri kami. Berilah kami petunjuk dan hidayahmu kepada diri kami dalam menjalani hidup ini ya Allah, Ya Arif, Ya A’limul’Ghaibi Wa Sahadah. Ya Allah kabulkanlah doa dan hajat kami, dan naungilah kami dalam menjalani hidup di dunia dan akhirat nanti, Ya Allah, Ya Razaaq, Ya Ghani, Ya Wa’kil.

      Ya Allah jadikanlah diri kami tempat persinggahanmu selalu, tiada daya dan upaya kami untuk mengingatmu dalam diri kami, Allah…Allah…Allah…Allah…Allah…Allah…Allah. Ya Allah kuatkanlah tekad dan azam pada diri kami untuk meraih maghfirah dan ridho Illahi seraya pasrah dalam diri kami kepada Illahi dan komitmen sebagaimana niat didalam sholat kami sesungguhnya hidupku, matiku, ibadahku hanya untuk Allah dan kupasrahkan kepada Allah. Dan Aku bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah dan Nabi Muhammad Utusan Allah.

Ingat Allah Dalam Hati dan Hidup Ini

Pada hakekatnya, tugas utama manusia dikehidupan Dunia ini  adalah mengabdi pada Allah SWT.
Dalam Surah Al An’aam ayat 162, Allah ber-Firman:
“Sesungguhnya Shalatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku hanya untuk Allah semata”.
Dan sebagai manusia yang mengaku ber- iman, salah satu bentuk keimanan tersebut adalah yakin dan percaya 100% pada kitab suci Al Qur’an, sebagai Petunjuk, Perintah serta Pedoman Hidup kita di Dunia.
Oleh sebab itu, wajiblah bagi kita untuk senantiasa berpegang pada Al Qur’an, dengan jalan : membaca, mengerti, memahami serta mengamalkan segala perintah Allah SWT.
Mengingat Allah adalah salah satu perintah Allah yang ada didalam Al Qur’an, diantaranya dalam Surah Al Baqarah ayat 152 :
“Ingatlah kamu kepada-KU, niscaya AKU ingat (pula) kepadamu”
Mengingat Allah sebenarnya dapat dirasakan dan tertanam selamanya seumur hidup melalui akal dan pikiran ; serta pada hati, perasaan dan jiwa/rohani.

Namun Mengingat Allah dengan akal dan pikiran saja tidak akan tertanam dalam hati, perasaan dan jiwa. Hal itu hanya akan bertahan beberapa saat saja, dan kemudian dengan mudah akan lupa dengan begitu saja.
Tafakur Meditasi Islam Abah Didi (TMIAD) mempunyai sebuah metoda atau cara untuk Mengingat Allah, yang akan dirasakan dan tertanam seumur hidup dalam hati sanubari, yaitu Mengingat Allah dengan konsentrasi akal pikiran pada kalimah “Subhanallah” yang berada dalam pernafasan, yang merupakan intisari kehidupan.
Ketika kita berkonsentrasi melakukan pernafasan sembari melafadzkan  kalimah Subhanallah, kita harus “melupakan secara mutlak semua ingatan dan peristiwa Dunia”  (salah satu ciri dari ilmu Tasauf modern) ;  Khusus hanya mengingat Allah SWT saja.
Jadi Mengingat Allah bagi umat Islam yang ber- iman, adalah sebenarnya bukan kehendak manusia itu sendiri, melainkan adalah merupakan perintah dari Allah SWT sebagai Pencipta dan Pemilik seluruh Umat Manusia dan Alam Semesta.
Dalam Surah Al Ankabuut ayat 45, Allah ber-Firman:
“Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar keutamaannya dari Ibadah-Ibadah lain. Dan Allah mengetahu apa yang kamu kerjakan”.
Didalam beberapa Surah, Allah selalu mengingatkan kita untuk senantiasa ingat kepada-NYA. Beberapa Surah tersebut adalah :
Surah An Nisaa ayat 4:
“Ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring”
Surah Al Insaan ayat 25 dan ayat 26:
“Dan sebutlah (ingatlah) dalam hatimu pada waktu pagi dan petang”.
“Dan ingatlah pada kepada-NYA pada sebagian dari malam, maka sujudlah kepada-NYA dan bertasbihlah kepada-NYA pada bagian yang panjang dimalam hari”.
Surah Al A’raaf ayat 205:
“Dan sebutlah (ingatlah) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang, dan Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”.
Surah Al Hasyr ayat 19:
“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri”.
Allah ber-Firman dalam Surah Ath Thuur ayat 49:

“Dan bertasbihlah (ingatlah) kepada-NYA pada beberapa saat di malam hari dan diwaktu terbenam bintang-bintang (diwaktu fajar)”.
Dalam Surah Qaaf ayat 39 dan ayat 40, Allah ber-Firman:
“Dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit dan terbenam matahari”.
“Dan bertasbihlah kamu kepada-NYA dimalam hari dan setiap selesai Shalat”.
Allah ber-Firman dalam Surah Al Hadiid ayat 1:
“Semua yang berada dilangit dan yang berada dibumi bertasbih kepada Allah. Dan DIA-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Dalam Surah Al Hasyr ayat 1, Allah ber-Firman:
“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan yang di bumi, dan DIA-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Allah ber-Firman dalam Surah At Taghabuun ayat 1 :
“Bertasbih kepada Allah apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi. Hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua puji-pujian, dan DIA Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dalam Surah Al Jumu’ah, Allah ber-Firman:
“Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.
Menurut Abah Didi, janganlah manusia sampai melupakan diri dari Mengingat Allah, melupakan Allah karena kehidupan Dunia, harta, anak-isteri serta dari kesibukan ber-ikhtiar, usaha, pekerjaan, dan perdagangan yang kita lakukan sehari-hari.
Adalah sangat merugi manusia tersebut karena ulahnya sendiri, sehingga Allah melupakannya, dan Allah tidak ingin diingat oleh manusia tersebut.
Seperti Firman Allah SWT dalam kitab suci Al Qur’an:
Surah Al Jaatsiyah ayat 23:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya. Dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberi petunjuk sesudah Allah membiarkannya sesat? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”.
Surah Az Zumar ayat 22:

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinyauntuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya sama dengan orang yang membatu hatinya?. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk Mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.
Surah Al Munaafiquun ayat 9:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari Mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi”.
Dalam Al Qur’an, Allah SWT telah menjanjikan bahwa barang siapa yang senantiasa Mengingat Allah, akan mendapat ketenangan dan ketenteraman hatinya di dalam menghadapi kehidupan di Dunia dan kehidupan di Akhirat. Gemetar hati manusai karena takut dan cinta kepada Allah, dan manusia itu harus selalu sabar, tanpa batas.
Seperti Firman Allah dalam Al Qur’an:
Surah Al Fath ayat 4:
“DIA-lah yang telah menurunkan ketenangan kedalam hati orang-orang yang mu’min supaya keimanan mereka bertambah disamping keimanan mereka yang telah ada”.
Surah Ar Rad ayat 28:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.
Surah Al Hajj ayat 35:
“Orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan Shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami rezekikan kepada mereka”.
Didalam kehidupan Dunia yang terdiri dari beraneka ragam kegiatan, bermacam-macam aktivitas keseharian atau rutinitas yang padat, maka cara untuk Mengingat Allah ini dapatlah dilakukan setiap saat, dimana saja dan kapan saja.
Dengan berlatih TMIAD minimum 5 (lima) menit sehari, serta mengamalkannya setiap saat pada setiap kesempatan, insyaAllah nafas kita akan terbiasa melafadzkan “Subhanallah”  disetiap tarikan ataupun hembusan nafas kita, ditengah-tengah kesibukan atau aktifitas kita masing-masing, dan bahkan bisa jadi ketika kita dalam keadaan tertidur, dan insyaAllah ketika kita menghembuskan nafas kita yang terakhir.
Ingat, berlatihlah setiap hari, seumur hidup, minimal 5 (lima) menit sehari, dalam posisi Shin.
Kemudian amalkan dimana saja ketika sedang beraktifitas sehari-hari, boleh sambil duduk di kursi kerja kantor, sedang duduk menunggu sesuatu, sedang berada dalam kendaraan. Atau ketika tengah berolah-raga, ketika sedang beristirahat, atau ketika sedang melakukan hal-hal apapun yang memungkinkan kita untuk Mengingat Allah (dan Mengingat Akhirat).
Tiada hari tanpa Mengingat Allah dan Mengingat Kehidupan Akhirat!
Source Bonar

Selasa, 21 Agustus 2012

Illahi Anta Maksudi Waridhoka Matlubi Atini Mahabataka Wamarifataka





Illahi Anta maksudi / Tuhanku, Engkaulah yang kumaksud,


وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِيْ

Wa Ridhokka Matlubi/ dan ridhaMU yang hamba cari,


أَعْطِنِيْ مَحَبَّـتَكَ وَ مَعْرِفَتَكَ

A`thinî mahabbahtaka wa ma`rifataka/ limpahkan hamba cintaMU dan makrifahMU


1.

اَللَّـهُمَّ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

Allahumma yâ qâdhiya l-hâjât / Wahai Allah, pemenuh segala hajat & kebutuhan…


Hajat kami banyak, ya Allah…

penuhilah hajat dunia kami, juga hajat akhirat kami…


2.

اَللَّـهُمَّ يَا كَافِيَ الْمُهِمَّاتِ

Allahumma yâ kâfiya l-muhimmât / Wahai Allah, pencukup segala kepentingan…


Cukupkanlah kepentingan rumah tangga kami…

Cukupkanlah kepentingan pendidikan anak-anak kami…

Cukupkanlah kepentingan usaha dan pekerjaan kami…

Cukupkanlah kepentingan ibadah kami…

Cukupkanlah bekal kami untuk berhaji,

sebelum mati mendatangi…


3.

اللَّـهُمَّ يَا دَافِعَ الْبَلِيَّاتِ

Allahumma yâ dâfi‘a l-baliyyât / Wahai Allah, penolak segala bala’…

penepis segala bencana…


Jauhkanlah kami dari berbagai bala’ dan bencana…

-- bencana wabah Corona

– bencana natural, maupun bencana moral…

– bencana finansial, maupun bencana spiritual…

Jauhkan kami dari bencana rumah tangga, ya Allah…


4.

اللَّـهُمَّ يَا رَافِعَ الدَّرَجَاتِ

Allahumma yâ râfi‘a d-darajât / Wahai Allah, pengangkat derajat…

peninggi martabat…


Angkatlah derajat dan martabat kami…

Muliakanlah umat Muhammad ini di hadapan umat-umatMu yang lain…

Jangan Engkau perhinakan kami,

hanya karena banyaknya dosa dan maksiat yang kami buat…

Tutuplah segala cacat, aib, cela, dan kekurangan-kekurangan kami…


5.

اللَّـهُمَّ يَا شَافِيَ الْأَمْرَاضِ

Allahumma yâ syâfiya l-amrâdl / Wahai Allah, penyembuh dari segala penyakit…


Sembuhkanlah kami dari penyakit-penyakit jismani…

juga penyakit-penyakit ruhani…

Jauhkanlah kami dari penyakit munafik…


6.

اللَّـهُمَّ يَا مُجِيْبَ الدَّعَوَاتِ

Allahumma yâ mujîba d-da‘awât / Wahai Allah, penjawab segala doa…


Engkau pengabul segala permohonan…

Perkenankanlah segala permintaan kami…

Sampaikanlah anak-cucu kami pada cita-cita dan harapan mereka…


7.

اللَّـهُمَّ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allahumma yâa arhama r-râhimîn / Wahai Allah, Maha Penyayang di antara para penyayang


Sayangilah kami ya Allah…

Jadikanlah kami orang-orang yang Engkau cintai,

sekaligus orang-orang yang mampu untuk saling mencintai…

Sebagaimana kami selalu mengharap ampunan dan maaf dariMu…

jadikan pula kami orang-orang yang mampu memaafkan orang lain…

Angkatlah segala marah & iri, benci & dendam,

serta kekecewaan dari diri kami…

I'tikaf di Masjid



Oleh Nasrullah.

Hmm...indahnya di Inabah bagi ikwan Suryalaya disini, terkait topik I'tikaf di Inabah kita memang selalu bergantung dengan yang namanya masjid rumah illahi, nah momment yang pass deh.

Beberapa hall (Keadaan) yang diperbolehkan bagi orang yang melaksanakan i’tikaf di Masjid dan bermaksud keluar dari tempat i’tikaf-nya. Pertama, Ada hajat kebutuhan yang sangat mendesak dan tidak bisa ditunda lagi  seperti halnya buang hajat, “Seluruh Ulama sepakat bahwa seseorang yang sedang melaksanakan i’tikaf di Masjid, diperbolehkan keluar dari tempat i’tikaf untuk buang air besar maupun kecil, karena hal itu tidak mungkin dilakukan di dalam masjid dan tak dapat ditunda bagi seseorang yang sedang berhajat” (Red.Ibnu Mundzir).

Selain buang hajat, kebutuhan yang tak dapat ditunda yakni makan dan minum pada saat sahur dan berbuka puasa. Sebagaimana penuturan Ibunda Aisyah berkata, “Jika Rasulullah SAW beri’tikaf, beliau menjulurkan kepalanya kepadaku, lalu aku menyisir rambut beliau. Beliau tak masuk ke rumah, kecuali untuk memenuhi kebutuhan manusiawi.” (HR Bukhari-Muslim).

Menyisir rambut dan mengguntingnya, memotong kuku, membersihkan tubuh dari debu dan kotoran, memakai pakaian yang bagus, dan memakai minyak minyak wangi.
Artinya Makan, minum, dan tidur di dalam masjid diperbolehkan saat beri’tikaf di masjid, syaratnya tetap menjaga kebersihan masjid.

Selain itu juga diperbolehkan bagi seseorang yang sedang i’tikaf keluar untuk menyalami sanak keluarga yang hendak berpergian. Menurut Sayyid Sabiq, “orang yang i’tikaf boleh keluar dari tempat i’tikaf untuk mengucapkan selamat jalan kepada keluarganya yang hendak bepergian”.

I’tikaf dan Khalwat (Menyepikan Diri)

Dalam I’tikaf hendaknya selalu diisi dengan berbagai ibadah kepada Allah SWT. Atau dengan menyepikan diri Khalwat terhadap segala sesuatu dan memfokuskan diri terhadap Allah dan melepaskan segala sesuatu kecuali Allah.SWT, mengingat-nya baik ketika berbaring, duduk, berdiri dengan ingat Allah sebanyak-banyaknya baik dikala siang dan malam. Lidah selalu basah dengan lantunan zikir baik itu tasbih, hamdalah maupun tahlil, dan memutuskan diri dengan seluruh kemampuan yang dimiliki (red.tiada daya dan upaya melainkan atas pertolongan Allah) dengan berserah diri dan berusaha menjadi tempat persinggahan Allah.SWT semata. 

“Persinggahan Allah.SWT yang berarti bahwa segala bentuk amal kebaikan itu berasal dari Allah dan kembali kepada Allah, kita hanya tempat persinggahannya, karena Allah-lah jualah yang memberikan hidayah kepada kita untuk bisa ingat (zikir) pada Allah dan mendekat kepadanya melalui tingkatan Maqamat atau Hallikhwal”. Bersandar selalu kepada Allah seraya berharap selalu dalam curahan cahaya kasih sayang Allah melalui cahaya nabi Muhammad.SAW.


Syekh Abd al-Qadir berkata  :


Dalam gua Hira, dimana Nabi SAW. ber-khalwat, cahaya mamancar, fajar menyingsing, dan matahari terbit. Gemerlap pertama cahaya cahaya Islam telah menyambar. Tak pernah Nabi SAW meninggalkan khalwatnya, bahkan setelah meninggalkan Gua Hira. “Sepanjang hidupnya beliau SAW meneruskan latihan khalwat (‘itikaf) nya terutama  selama sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan”.


Ini memperagakan bahwa sepanjang hidupnya, Nabi SAW  meneruskan khalwatnya secara tetap. Tentu saja tugas maha berat menyampaikan Risalah Allah kepada ummat manusia dan membangun masyarakat beriman.

Nabi s.a.w. melalui khalwatnya dalam Gua Hira, diangkat kepada maqam di mana beliau s.a.w. menerima wahyu. Dalam khalwatnya buah pertamanya adalah mimpi yang benar, dan dari maqam ini beliau s.a.w. diangkat pada Malam Mi’raj, sampai beliau mencapai Hadhirat Ilahiah ke maqam “dua busur jaraknya atau lebih dekat.” (53:9)


Demikian juga, khalwat (menyepi) dalam Sunnah. Bukhari melaporkan bahwa Aisha r.a. mengatakan :

Nabi s.a.w. senang sekali berkhalwat (menyepikan dirinya). Beliau s.a.w. berkhalwat (menyepikan diri). Dalam Gua Hira.

Mengungkapkan kisah tentang Shahabat Gua (Kahfi), Allah bersabda dalam al Qur’an bahwa mereka diperintahkan :

Pergilah kalian ke Gua itu : Tuhanmu akan mengguyur mu dengan Rahmat Nya mengatur urusanmu menuju kemudahan. (18:16)


Terdapat amalan-amalan yang mustahab dalam i’tikaf atau berkalwat seperti
1. Shalat. Mengerjakan shalat fardhu (wajib) maupun sunah saat i’tikaf amat dianjurkan. Sebab, shalat merupakan seutama-utamanya ibadah dan paling besar pahalanya. “Shalat merupakan hubungan langsung antara dua pihak, yakni seorang hamba dengan Allah.SWT. Terlebih, shalat adalah tiang agama dan rukun Islam yang paling utama,” kata Al-Kubaisi.

2. Memperbanyak membaca Alquran.  Dengan membaca Alquran hati akan menjadi tenang dan jiwa menjadi tentram. Terlebih, pahala membaca Alquran juga amat besar. Orang banyak membaca Alquran mandapat jaminan untuk mendapatkan syafaat di hari akhir kelak. Rasulullah SAW bersabda, “Bacalah oleh kalian Alquran. Karena sesungguhnya Alquran itu akan datang menghampiri kalian di hari kiamat sebagai syafaat.” (HR Muslim).

3. Memperbanyak Zikir. Orang yang i’tikaf dianjurkan untuk memperbanyak zikir. Tentu saja, yang diutamakan adalah amalan-amalan yang disyariatkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW, seperti: bertasbih, tahmid, tahlil, istighfar, dan sebagainya.  Menurut para ulama, zikir merupakan salah satu ibadah khusus untuk bertaqarub kepada Allah SWT. Sesungguhnya, menyibukkan diri saat i’tikaf dengan berzikir akan mendapat pahala yang besar.
Allah SWT berfirman, “Karena itu ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu; bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS Al-Baqarah [2]: 152).

4. Bershalawat. Amalan lainnya yang dianjurkan bagi orang yang beri’tikaf adalah memperbanyak shalawat kepada Rasulullah SAW. Allah SWT telah memerintahkan kepada kita untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Bershalawat menjadi salah satu sebab turunnya rahmat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ‘’Siapa saja yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah memberinya rahmat sepuluh.’’ (HR Muslim).

5. Mengurangi hubungan dengan orang banyak. Pada saat i’tikaf dianjurkan untuk mengurangi hubungan dengan orang banyak (berkalwat). Bahkan, kata para ulama, lebih disukai, jika i’tikaf telah selesai, kita berdiam diri pada malam menjelang Idul Fitri. Kemudian, keesokan harinya keluar dari masjid tempat i’tikaf menuju tempat shalat Idul Fitri. Dengan demikian, kita telah menyambung dari satu ibadah ke ibadah yang lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa bangun (untuk beribadah) pada dua malam Ied dengan mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah tidak akan mematikan hatinya pada saat dimatikannya semua hati.”

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls